Sahabat, pernahkah kita bermimpi berada di suatu tempat yang
sangat asing, yakni tempat yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya, suatu
tempat yg angker dengan berbagai macam hal yg menakutkan, siksaan, dan
malangnya lagi kita tak bisa keluar dari tempat tersebut.
Dan mimpi itu seakan-akan nyata adanya hingga kita menangis
atau berteriak dalam tidur kita. Setelah terbangun dari mimpi tersebut, dengan
nafas masih terengah-engah, kita pun bersyukur dan berucap, "untung ini
semua hanya mimpi".
Pernahkah kita meyakini hal mengerikan tersebut akan
benar-benar terjadi pada kita?
Rasulullaah SAW berkata: "...Ingatlah kematian, demi
Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang
aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis."
(Shahih Muslim).
Cepat atau lambat, alam kubur adalah fase yang pasti akan
kita jalani. Fase kubur ini menjadi penentu sebelum menapak ke fase berikutnya,
yaitu padang masyhar, pengadilan Allah SWT.
Jika sukses kita di fase ini, insya Allah di fase berikutnya
kita pun akan sukses, yang puncaknya dengan kehidupan penuh kenikmatan di
Jannatun Na'im (surga). Sebaliknya, jika kita gagal di fase ini, dapat
dipastikan kegagalan juga yang didapati di fase berikutnya, yangg diakhiri
dengan penderitaan tak terperi di neraka jahanam, na'udzubillah.
Semua tahu itu, tapi kadang kita lalai untuk bersiap diri.
Pernahkan kita memikirkan bila kemarin kita mengantarkan
teman ke kuburnya, dan mungkin besok atau lusa giliran kita yang diantarkan ke
kubur? Dan bila saat itu datang, apakah kita telah benar-benar siap? Akankah
kita menyalahkan Yang Maha Pemurah karena tak memberikan kesempatan dan peluang
bagi kita untuk bersiap diri?
Sering kita dikejutkan dengan berita orang-orang terkenal
mulai dari tokoh masyarakat hingga para selebriti yg telah meninggalkan dunia
ini selamanya, padahal masih terngiang prestasi atau karya-karyanya di dunia
ini. Bahkan orang-orang di sekitar kita, apakah anggota keluarga, teman dekat
atau pun tetangga yang telah meninggalkan kita selamanya, padahal sebelumnya
kita masih berjumpa dan bercanda dengan orang-orang yg kita cintai tersebut.
Sayangnya tipu daya setan dan beratnya beban hidup membuat kita terlena, hingga
kita selalu merasa mendapat "giliran" paling akhir untuk menghadap-Nya.
Sebenarnya itu semua bagian dari early warning system dari
Yang Maha Pemurah bagi kita untuk bersiap diri. Selain
"sinyal-sinyal" lain yg diberikan Allah SWT kepada diri kita secara
langsung. Rambut yg telah berubah warna; mata yang dulunya tajam dan sangat
awas sekarang mulai memudar kemampuannya; gigi yang dulunya kuat melahap
makanan apa saja, sekarang mulai terasa ngilu kalau menguyah, bahkan beberapa
di antaranya mulai tanggal.
Belum terlambat untuk merenungi ayat ini:
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau
dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui." (QS Al Ankabut: 64).
Marilah kita mulai dengan melaksanakan semua perintah-Nya
dan meninggalkan segala larangan-Nya dengan segenap kemampuan kita. Mari kita
pastikan, tiada hari yg terbuang tanpa nilai ibadah kepada-Nya, walau itu hanya
seulas senyum, tegur sapa serta jabat tangan yang ikhlas kepada orang-orang di
sekitar kita.
Insya Allah bila tiba giliran kita menghadap-Nya, tak ada
teriakan penyesalan dari kubur kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar